Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2008

Hmm …

Ketiga kebutuhan anak ini sebaiknya sudah diberikan sejak kehamilan 6 bulan.

“Siapa yang ingin anaknya tumbuh menjadi anak cerdas?” teriakan Dr Soedjatmiko, SpA (K), Msi, menggema di Plaza Semanggi, Sabtu lalu, dalam sebuah acara diskusi. Pastilah semua orang tua menginginkan anak mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas. Namun, tak semua orang paham cara agar bayi dan anak balita tumbuh kembang optimal, sehat, cerdas, kreatif, dan berperilaku baik.

Untuk meraih harapan itu, Soedjatmiko menyodorkan tiga modal yang harus digenggam para orang tua. “Supaya bayi dan balita tumbuh kembang optimal, jawabannya hanya ada tiga hal, yaitu kebutuhan fisik-biologis, kasih sayang, dan stimulasi sejak di dalam kandungan,” ujar dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang Pediatri Sosial pada Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ini.

Ia menjelaskan, yang disebut kebutuhan fisik-biologis berupa nutrisi, seperti air susu ibu (ASI), makanan pendamping ASI, imunisasi, kebersihan badan, serta lingkungan tempat tinggal, bergerak, dan bermain. “Kebutuhan fisik-biologis terutama berpengaruh pada pertumbuhan fisik, seperti otak, alat pengindraan, dan alat gerak untuk mengeksplorasi lingkungan,” ujarnya. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Hmm …

Ternyata, tubuh tergantung bagaimana kita menggerakannya. Olahraga apa yang cocok untuk kita?

Penggemar pilates terkenal akan perut mereka yang rata, tapi tahukah Anda bahwa jalan kaki bisa membuat bentuk bokong lebih bagus ketimbang joging? Ahli olahraga Joanna Hall mengemukakan bagaimana olahraga bisa mendikte bentuk tubuh Anda.

Phaidon L. Toruan, MM, dokter penggemar olahraga dan penulis buku Fat Loss Not Weight Loss, sepakat dengan Hall. “Tergantung otot mana yang lebih banyak dipakai dalam gerakannya,” kata dokter yang aktif sebagai pelatih fitness dan atlet ini. Semakin sering salah satu otot dipakai, biasanya massanya juga semakin mengembang. Ia mencontohkan, perenang biasanya memiliki kadar lemak tubuh di bawah kulit lebih banyak. “Karena tubuh mempertahankan diri untuk memproteksi panas tubuh,” katanya.

Apa pun pilihannya, Phaidon menyarankan tidak melupakan tiga faktor keseimbangan dalam olahraga. Yaitu olahraga bersifat aerobik untuk melatih kardio, olahraga anaerobik atau latihan beban, dan peregangan atau stretching untuk menghindarkan cedera. Berikut jenis olahraga dan postur tubuh yang dihasilkannya : (lebih…)

Read Full Post »

Pemberian ASI

Hmm …

Penundaan pemberian susu sapi justru meningkatkan risiko alergi.

Isi keranjang belanja Kiki, 30 tahun, tak seperti ibu lain yang memiliki anak balita. Bukannya oleh merek aneka susu anak yang kerap didengung-dengungkan di layar televisi, keranjangnya malah dipenuhi merek khusus susu kedelai. Demikian juga jenis susu kemasan yang dipilihnya, ia mencomot susu keledai dalam kemasan bantal. “Anakku, kan, alergi susu sapi, jadi aku pilih susu kedelai,” ujarnya ketika melihat ekspresi keheranan rekannya yang menemaninya belanja suatu sore.

Ketika anaknya divonis alergi susu sapi, dokter memang langsung menyarankan Kiki menunda pengenalan susu sapi atau makanan cair kepada si kecil. Saran seperti itu memang paling sering dilontarkan para ahli medis ketika menemui kasus alergi susu. Ternyata, masih sedikit bukti ilmiah yang mendukung nasihat tersebut. Temuan terbaru justru menyebutkan sebaliknya. Penundaan pemberian susu sapi bukannya menurunkan risiko alergi, malah meningkatkan peluangnya pada dua tahun pertama kehidupan anak. Hal ini diungkapkan Dr Bianca E.P. Snijders dari Universitas Maastricht dan rekannya setelah menganalisis darah dari 2.558 bayi. (lebih…)

Read Full Post »

Virus HPV

Hmm …

Vaksin HPV kanker serviks ditujukan untuk perempuan usia 10-55 tahun.

Vonis prakanker serviks (leher rahim) membuat Veronica, karyawati di Jakarta, terkejut dan stres. Hal itu terjadi 13 tahun lalu. Sebelum penyakit itu berubah menjadi kanker, wanita ini pun menjalani terapi pengobatan dengan loop electrosurgical excision procedure (LEEP).

“Dokter berhasil mengangkat sel abnormal dari leher rahim saya,” ujarnya. Pascapengangkatan sel kanker, ternyata Veronica mengalami keguguran enam kali. “Saya didiagnosis memiliki leher rahim yang inkompeten.”

Menurut hasil penelitian yang dilansir dalam jurnal kesehatan The Lancet terbaru, jenis operasi yang digunakan untuk mengangkat sel abnormal dari leher rahim tersebut–yang jika tidak diobati akan menimbulkan kanker serviks–menimbulkan risiko terjadinya komplikasi kehamilan di kemudian hari. Kesimpulan ini berdasarkan analisis data dari 27 penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan kanker serviks.

Ketua tim penelitian, Dr Maria Kyrgiou, dari Rumah Sakit Central Lancashire Teaching, Preston, Inggris, mengungkapkan wanita yang menjalani prosedur LEEP memiliki risiko paling besar melahirkan bayi prematur atau memiliki bayi dengan berat badan kurang.

Menurut Kyrgiou, dokter seharusnya memperingatkan wanita muda yang memiliki kondisi rahim yang memiliki sel prakanker atau abnormal. “Seharusnya wanita tidak hanya mencari informasi detail mengenai kemanjuran pengobatan tersebut, tapi juga mengetahui dampak jangka panjang terhadap kehamilannya sebelum mereka melakukan terapi tersebut,” ujar Kyrgiou seperti dikutip Medlineplus.com. (lebih…)

Read Full Post »

Hmm …

Kalau terpilih sebagai bupati, apa yang akan dilakukan? Menurut Pak Karto, petani tembakau yang tinggal di pucuk Gunung Sumbing dan kenalan baik keluarga saya, yang akan dilakukan sederhana saja: “Seperti Pak Masjchun.”

Pada usianya yang lebih setengah abad, Pak Karto tetap mengenang Pak Masjchun. Padahal Masjchun Sofwan, nama lengkap Pak Masjchun, sudah pensiun dari jabatan bupati di kampung halaman Pak Karto, Temanggung, sejak 30 tahun lalu.

Jawaban itu juga muncul ketika saya tiba-tiba bertemu dengan petani tembakau makmur itu saat sama-sama membeli belut untuk oleh-oleh di Godean, bagian barat Yogyakarta. Iseng saya goda Pak Karto. “Saya pikir kemarin sudah menang pilkada bupati, terus sibuk, sampai tidak sempat beli belut seperti ini.”

Wong kulo tiyang mboten pendidikan, Mas. Mosok jadi bupati,” katanya. “Kalaupun bisa, paling jadi bupati kethoprak.”

“Jadi, kalau berpendidikan, Pak Karto nyalon bupati?” (lebih…)

Read Full Post »

Hmm …

Mau berumur lebih panjang setidaknya untuk lima tahun? Kurangi makan. Para ahli menyatakan cara inilah yang bisa dibilang resep bikin umur panjang yang sebenarnya.

Dengan membatasi asupan kalori, berarti pula memangkas risiko mengidap penyakit dan membuat seluruh sel tubuh jauh lebih awet. Minimal, dengan makan lebih sedikit, akan membimbing kepada gaya hidup menyehatkan.

“Sudah banyak bukti kalau restriksi kalori bisa mengurangi risiko beberapa penyakit umum, termasuk kanker, diabetes, dan jantung,” ujar Edward Weiss, peneliti di Saint Louis University, “panjang usia akan memiliki perbedaan yang substansial.”

Berikut hitung-hitungan kasar yang diberikan: makan 15 persen lebih sedikit mulai usia 25 tahun bisa menambah umur lebih panjang 4,5 tahun. Angka itu memang muncul dari penelitian terhadap tikus. Tapi Eric Ravussin, peneliti kesehatan dan performa manusia dari Pennington Biomedical Research Center di Louisiana, Amerika Serikat, menyatakan, “Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa itu tidak berlaku pula untuk manusia.” (lebih…)

Read Full Post »

Hmm …

Jenjang pernikahan sejatinya gerbang sakral dalam memulai lembaran kehidupan baru. Pernikahan adalah sebuah jalan menuju tahapan penuh suka dan duka bagi tiap pasangan. Lepas dari kaitan berdasarkan setiap ajaran agama, momentum itu tentu mesti dijunjung tinggi.

Yakin kepada pasangan adalah salah satu kunci selain memanjatkan doa kepada-Nya. Di era modern yang kerap memunculkan ketikdapastian, eratnya komitmen merupakan bekal yang tak bisa ditawar lagi, meskipun tak seorang pun bisa menebak bagaimana biduk rumah tangga berlayar. Kita bisa lihat misalnya dari layar kaca belakangan ini di tanah air: berseliweran kabar kandasnya sejumlah rumah tangga pesohor.

Sebelum kita mengucap akad nikah atau melangkah melewati deretan tamu undangan menuju altar dalam upacara perkawinan, ajukan sejumlah pertanyaan yang sungguh penting. Hal itu diutarakan psikolog Dr. Robin L. Smith yang menulis sekitar 25 pertanyaan dalam bukunya yang bertajuk Lies at the Altar terbitan Hyperion.
(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »