
Hmm …
Air minum dalam kemasan, sesuatu hal yang sudah lumrah di kota² besar di dunia, juga di Indonesia.
Beberapa fakta baru tentang keamanan dan kemurnian air minum dalam kemasan di paparkan dalam WebMD. Berikut terjemahan bebas dan singkat dari fakta² tersebut:
- Sebuah LSM di Amerika Serikat [Environmental Working Group] menguji air minum dalam kemasan dari 10 merk terlaris dipasaran, dan mendapatkan 170 unsur dan campuran lebih dari 38 unsur, termasuk didalamnya bakteri, pupuk, dan bahan kimia dari industri pada tingkatan yang sama dengan air dari PDAM
- Sebanyak 45% air yang dijual dalam kemasan tersebut berasal dari sumber air umum
- Tidak ada yang lebih baik antara air minum dalam kemasan atau air PDAM.
Para ahli merujuk pada 2 hal dimana air minum dalam kemasan dapat disarankan, yaitu pada saat situasi darurat dimana level kontaminasi dari sumber air lokal melebihi ambang batas dan juga sistem pipa dirumah mengalami karat sehingga dapat mengkontaminasi air minum - Mengkonsumsi air minum dalam kemasan yang sudah lama tersimpan tidak masalah, selama belum terbuka dan segel masih utuh, serta belum melewati masa kadaluwarsanya.
- Bahan kimia dari botol plastik tempat air minum dalam kemasan tidak perlu begitu dikhawatirkan.
Kecuali plastik yang mengandung Bisphenol A dan Phthalate. Bisphenol A biasanya digunakan dalam proses produksi botol² air yang berulang kali dipakai, bukan yang sekali pakai. Phthalate sendiri tidak ditemukan dalam kemasan, tetapi kemungkinan jika ada, berasal dari penutup botol. - Mengkonsumsi air dalam kemasan yang sudah didinginkan dan atu yang menjadi panas karena teringgal didalam kendaraan adalah aman.
- Air minum dalam kemasan kemungkinan mengandung klorin tetapi kandungannya jauh lebih kecil dibandingkan yang ada pada air PDAM
Semoga berguna …


