
Hmm …
Sedikit terusik tuk menulis setelah membaca rubrik gaya hidup di Koran Tempo edisi 3 Februari 2009 dengan judul “Sehat Tanpa Suplemen” dan mengambil tagline bahwa Suplemen hanya bermanfaat untuk mereka yang berusia 65 tahun ke atas atau dalam kondisi tertentu.
Beberapa point penting menurut saya adalah
… dr Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPed pun meminta para ibu untuk hati-hati. Spesialis anak ini menyebutkan, suplemen itu bermanfaat hanya untuk orang berusia 65 tahun ke atas. Atau orang-orang yang dalam kondisi tertentu, seperti menopause, mengalami gangguan makan, menjalani diet rendah kalori. Juga mereka yang perokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, melakukan diet khusus, tengah merancang kehamilan, mempunyai kelainan metabolisme, atau penyerapan makanan dalam tubuh …
serta
… tak hanya anak-anak yang harus dicermati dari penggunaan suplemen, orang dalam kondisi tertentu pun harus lebih hati-hati. Misalnya, ibu menyusui, ibu hamil, atau menderita penyakit tertentu, seperti hipertensi, penyakit jantung, tiroid, diabetes, memiliki riwayat stroke, glaukoma, pembekuan darah, depresi, penyakit jiwa, epilepsi, parkison, pembesaran prostat, dan transplantasi organ …
Jadi sebetulnya, mengkonsumsi suplemen itu harus lebih hati², jangan termakan rayuan maut iklan di media massa.
Selain itu, masih di tulisan yang sama
… kelebihan vitamin yang larut dalam air [vitamin B dan C] dapat membuat beban kerja ginjal berlebihan sehingga fungsinya terganggu atau menyebabkan penumpukan dan muncullah batu ginjal. Sedangkan kelebihan vitamin larut lemak [vitamin A, D, E, dan K] bisa membebani hati yang bisa memicu gangguan fungsi hati, problem pembekuan darah, serta keracunan vitamin …
… saat ini banyak ibu yang ingin anaknya doyan makan sehingga ia membeli suplemen khusus pendongkrak nafsu makan. Padahal, kata Wati, suplemen sejenis itu belum terbukti efektif meningkatkan nafsu makan. “Dalam dunia kedokteran, belum ada yang namanya perangsang nafsu makan,” ia menegaskan.
Lagi pula, suplemen bukan obat yang harus menjalani uji klinis sehingga kita tidak tahu persis efektivitas dan keamanannya.
Mayoritas ibu pun ingin anaknya memiliki daya tahan super sehingga membeli suplemen khusus yang diiklankan mempunyai kemampuan menaikkan kekebalan tubuh. Wati dengan tegas menyebutkan, tidak ada obat untuk sistem imun. “Kalau tidak, kan sudah digunakan buat (penanganan) HIV,” ujarnya. Hal senada juga diungkapkan spesial anak dr Zakiudin Munasir dalam kesempatan berbeda …
Saia gak bisa membayangkan kondisi tersebut harus dihadapi anak-anak yang dijejali suplemen terus-menerus, yang pasti akan berpengaruh dalam tumbuh kembang mereka.
Jadi, daripada bingung mo memberikan suplemen jenis apa, lebih baik optimalkan asupan vitamin dari makanan yang sehat dan seimbang pada menu sehari²



ok
Soal supplemen ini memang susah-2 gampang!
Ada yang terkena bujuk dan rayu sehingga mau aja mengeluarkan duit yang “ehm” banyaknya cuma karena tergiur pesona, padahal, kalo mau buka sedikit aja google nya dan ketik isi “ingridients” nya akan keluar jenis makanan yang itu-2 aja, misal:
- ginko biloba, di Indon sama aja kayak pegagan
- temu lawak alias curcuma xanthorrisa
- bawang putih
- pomegranate alias delima
halaaaah… banyak lah yang nulisnya pake bahasa latin tapi bisa ditemukan di sekitar kita…
Alam Indonesia tuh kaya dan murah… mampir aja ke blog saya kalo nggak percaya…
http://www.rumahherbalku.wordpress.com