Hmm …
Kalau terpilih sebagai bupati, apa yang akan dilakukan? Menurut Pak Karto, petani tembakau yang tinggal di pucuk Gunung Sumbing dan kenalan baik keluarga saya, yang akan dilakukan sederhana saja: “Seperti Pak Masjchun.”
Pada usianya yang lebih setengah abad, Pak Karto tetap mengenang Pak Masjchun. Padahal Masjchun Sofwan, nama lengkap Pak Masjchun, sudah pensiun dari jabatan bupati di kampung halaman Pak Karto, Temanggung, sejak 30 tahun lalu.
Jawaban itu juga muncul ketika saya tiba-tiba bertemu dengan petani tembakau makmur itu saat sama-sama membeli belut untuk oleh-oleh di Godean, bagian barat Yogyakarta. Iseng saya goda Pak Karto. “Saya pikir kemarin sudah menang pilkada bupati, terus sibuk, sampai tidak sempat beli belut seperti ini.”
“Wong kulo tiyang mboten pendidikan, Mas. Mosok jadi bupati,” katanya. “Kalaupun bisa, paling jadi bupati kethoprak.”
“Jadi, kalau berpendidikan, Pak Karto nyalon bupati?”
“Mungkin,” katanya tertawa lagi. “Apalagi Mas kan wartawan. Saya bisa minta tolong ‘dimuat’ biar top.”
“Iya, dimuat,” kata saya. “Terutama kalau korupsi.”
Pak Karto tersenyum diingatkan bahwa baru beberapa tahun lalu Bupati Temanggung dipenjara karena korupsi. “Saya kalau jadi bupati tidak akan seperti itu, tapi bakal seperti Pak Masjchun.”
“Mungkin Pak Karto sudah tua, jadi ingatnya kepada Pak Masjchun saja?” kata saya memanasi Pak Karto.
“Bukan cuma yang tua, Mas. Yang muda juga,” katanya mulai panas. Wong tani itu segera menjadi analis politik terampil dengan mengatakan, waktu pemilihan bupati bulan lalu para juru kampanye banyak yang mencatut nama Pak Masjchun. Padahal ia menjadi bupati pada 1964-1978.
“Kalau cuma yang tua yang ingat, namanya tidak akan muncul di kampanye,” katanya. “Wong yang muda belum lahir waktu zaman Pak Masjchun.”
Pak Karto terus bercerita “zaman jaya Temanggung” di bawah Pak Masjchun. Saat itu wilayahnya menjadi kota tanpa tanding dalam urusan kebersihan di Indonesia. Ia juga membuat perusahaan daerah yang mengoperasikan bus yang mampu menjangkau pelosok wilayahnya.
“Bupati yang baik, seperti Pak Masjchun, tetap diingat biarpun sudah puluhan tahun pensiun,” katanya nyerocos. “Bukan seperti yang belakangan, terkenalnya malah gara-gara korupsi.”
Sedikit menyesal saya telah menyinggung soal bupati karena sekarang kebingungan bagaimana mengakhiri pembicaraan politik ini. Untung saja ibu penjual menyerahkan belut ke tangan istri saya. Dan Pak Karto, dengan keramahan khas petani tembakau, langsung membayari belut saya.
Nurkhoiri | wartawan Tempo



heran……, baru seminggu yg lalu sy lewat kota ini, ntah kenapa di mobil sy tiba2 bisa ngomong sendiri kalo inget Pak Masjchun Sofwan & istrinya. sy mrasa wuanneh nie