Hmm …
Bekerja melebihi waktu sudah jamak di tengah tuntutan hidup yang kian berat. Lembur pun ditempuh demi mengumpulkan pendapatan. Belum lagi ada rencana pemerintah memindahkan waktu kerja ke Sabtu-Minggu, yang notabene adalah waktu libur. Maka jadwal kerja bisa berubah tak keruan.
Lembur sejatinya bisa menjadi solusi, tentu, apabila produktivitas yang meningkat itu berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh yang berujung bisa dipakai untuk menyamankan hidup. Dompet lebih tebal, anggaran lebih sehat, plus tabungan untuk berlibur bisa bertambah.
Tahukah Anda bahwa studi terakhir menunjukkan bahwa para karyawan dan pekerja yang bekerja melebihi batas alias lembur mengundang risiko terserang kegelisahan dan depresi?
Temuan itu diungkapkan oleh Elisabeth Kleppa dan koleganya dari University of Bergen, Norwegia, yang menganalisis data jam-jam kerja dari studi besar para pria dan wanita Norwegia. Studi itu dipublikasikan pada Journal of Occupational and Envirotnmental Medicine edisi Juni 2008.
Simtom-simtom kegelisahan dan depresi ditelisik dengan pendeteksian melalui standar pertanyaan. Penelitian dilakukan terhadap 1.350 pekerja yang bekerja lembur 41 hingga 100 jam sepekan serta hampir 9.000 pekerja yang bekerja dalam waktu normal, yakni 40 jam atau kurang tiap pekan dengan membandingkan skor kegelisahan dan depresi.
Bekerja lembur terbukti berkaitan dengan tingginya skor kegelisahan dan depresi di antara pria dan wanita. Hasilnya mengindikasikan kemungkinan depresi meningkat dari sekitar 9 persen pada pria dengan waktu kerja normal menjadi 12,5 persen ketika mereka sering bekerja lembur.
Pada wanita, angka kemungkinan depresi meningkat dari 7 persen menjadi 11 persen. Pada pria ataupun wanita, angka kegelisahan dan depresi sama-sama meningkat di antara pekerja dengan gaji minim dan berpendidikan rendah.
Hubungan antara lembur dan kegelisahan/depresi paling kuat terjadi pada pria yang bekerja sering lembur 49 hingga 100 jam sepekan. Pria yang diteliti bekerja dalam waktu panjang, seperti di industri berat dan pekerja shift, serta levelnya lebih rendah, seperti bekerja bidang pendidikan ataupun yang membutuhkan keterampilan.
Studi-studi sebelumnya sudah mengendus perhatian terhadap kesehatan dan keselamatan pada pekerjaan dalam waktu panjang. Bagaimanapun, kebanyakan studi tentang isu ini berfokus pada dampak kesehatan dari kerja shift dibanding kerja lembur.
Di bawah aturan Uni Eropa, para karyawan punya hak menolak bekerja lebih dari 48 jam sepekan. Hasil penelitian terbaru mendukung kebijakan itu dengan meningkatnya angka kegelisahan dan depresi di antara para pekerja yang bekerja lembur. Para pria yang bekerja lebih dari 48 jam sepekan adalah yang berisiko tertinggi.
PYSCH CENTRAL


