Hmm …
Sempat berpikir juga saat selesai membacanya … sebuah tulisan dari Ngarto Februana di korantempo. Silahkan dibaca dan termenung atau tertawa atau bahkan bingung …
“Opo bedane kucing ambek manuk?” tanya Sudrun kepada Sarun dalam perjalanan pulang dari upacara Kebangkitan Nasional di Kelurahan Adem Ayem.
“Yo, jelas bedo!” sahut Sarun.
“Kucing dielus-elus turu, manuk dielus-elus….” ujar Sudrun.
“Sik, Cak,” tukas Sarun, yang sudah tahu arah omongan bekas pimpinan ludruk itu. “Lek guyon ojo nyerempet pornografi. Sing liane ae, Cak.”
“Apa bedanya kucing dan macan?”
“Kucing kecil, macan besar. Kucing dielus-elus, tidur. Manuk, eh, macan… baru didekati saja, sudah bangkit,” jawab Sarun. “Macan menyadari dirinya beda dengan kucing. Karena itu, macan tidak mau menyakiti kucing.”
“Lalu hubungannya dengan kebangkitan bangsa?”
“Sampean ini ono-ono ae, Cak, Cak. Kucing, yo, kucing. Macan, yo, macan. Bangsa, yo, bangsa. Bangkit, yo, bangkit. Gak ono hubungane.”
Sudrun tampak serius lalu berkata: “Dulu bangsa ini ibarat macan. Gagah perkasa, pemberani. Bersenjata bambu runcing saja bangkit melawan penjajah. Kalau harga dirinya disentuh, ngamuk. Ganyang Malaysia, linggis Inggris, setrika Amerika.”
Sarun terdiam. “Lha, sekarang?”
“Sekarang ibarat kucing. Dielus-elus, malah tidur, terlena. Dielus-elus dengan utang luar negeri, terlena. Kucing itu, kalau lagi kawin, urusan berahi, ribute puool. Masyarakat sekarang juga begitu. Ribut-ribut kalau urusan kawin. Ulama kondang poligami, semua ribut. Anggota Dewan mesum dengan penyanyi dangdut, ribut semua. Penyanyi dangdut goyang ngebor, ngeang-ngeong kabeh. Tapi setelah itu diam.”
Sudrun ada benarnya. Kenapa energi bangsa ini tidak dioptimalkan untuk mengatasi kelaparan, kemiskinan, dan masalah besar lainnya?
“Sik, Cak, hubungannya dengan kebangkitan bangsa?” tanya Sarun.
“Walau Hari Kebangkitan Nasional diperingati tiap tahun, bangsa ini ndak bangkit-bangkit, selama bermental kucing. Tidak akan bangkit dari krisis, dari kemiskinan, dari kepicikan pikiran tidak bisa menerima perbedaan,” kata Sudrun. “Saatnya bangsa ini mengubah diri jadi macan.”
Sarun manggut-manggut.
“Yo, wis, sepurane sing akeh lek ono sing tersinggung. Kucing mudah tersinggung kalau dikritik.”



ada benernya
soalnya negara kita terlalu banyak menumpuk utang luar negeri.