Hmm …
Merinding nech nulisnya … sumpah !!
Sebuah film dokumenter yang diproduksi pada tahun 2007 oleh Greenlight Media AG dan BBC WorldWide dengan durasi sekitar 90 menit.
Film ini diproduksi selama lebih dari 4500 hari dengan 30 tim kamera di lebih dari 200 lokasi diseluruh dunia dengan budget $47 juta.
Film ini akan diputar di jaringan BlitzMegaplex [Grand Indonesia, Pacific Place dan Paris van Java] hingga 29 April 2008 [Pacific Place] … Jadwal jam tayang bisa lihat di sini … BlitzMegaPlex
Sedikit jalan cerita, sinopsis yg diambil dari korantempo …
Tentang Alam
Dibutuhkan lebih dari 4.500 hari dan melibatkan 40 spesialis kamera untuk memproduksi film dokumenter yang dahsyat ini.
Berenang bersama paus humpback raksasa, mengais bongkahan es di Kutub Utara, serta bermigrasi hingga ribuan kilometer bersama rombongan gajah, itulah yang sekilas terasa ketika menonton film Earth produksi Greenlight Media AG. Keajaiban kehidupan alam yang tak pernah tersentuh manusia disajikan dalam film dokumenter besutan Alastair Fothergill dan Mark Linfield tersebut.
Film berdurasi 90 menit ini menyajikan kisah ibu beruang Kutub Utara mengasuh anaknya, induk gajah yang melindungi anaknya dalam eksodus menuju sumber air, dan seekor paus humpback betina yang mengiringi anaknya mengarungi 4.000 mil lautan luas. Selain kisah ketiga hewan raksasa itu, film ini diselingi berbagai pemandangan alam yang indah, seperti mekarnya bunga setelah musim dingin, hingga gerakan lambat hiu putih raksasa yang memangsa anjing laut dalam sekali lahap.
Memang, yang disajikan oleh Alastair dan Mark adalah sebuah pemandangan indah yang tak lazim dalam kehidupan kita sehari-hari: dari Kutub Utara dengan beruang esnya hingga Kutub Selatan, dari puncak tertinggi Himalaya hingga lautan dalam tempat ikan raksasa bermukim, serta dari gurun tandus hingga air terjun indah di Afrika. “Dalam dunia yang berubah ini, setiap makhluk sangat berharga,” ujar sang narator, Patrick Stewart (pemeran Profesor Charles Xavier dalam X Men).
Ganasnya kehidupan alam liar juga digambarkan dengan apik, misalnya ketika rombongan gajah di Gurun Kalahari menuju delta Okavango diserbu badai debu. Walau adegan mangsa-memangsa juga hadir dalam film ini, tidak ada sebercak darah pun yang tumpah sehingga film ini sangat layak bagi semua umur. Pengetahuan yang tersaji juga diyakini dapat menjadi daya tarik yang mampu membuat penonton tercengang.
Dibutuhkan lebih dari 4.500 hari dan 40 spesialis kamera untuk memproduksi film dokumenter yang dahsyat ini. Dengan anggaran lebih dari US$ 40 juta, pengambilan gambar dilakukan di lebih dari 200 lokasi yang tersebar di 26 negara. Gambar yang dihasilkan pun terbilang dahsyat. Bayangkan, gambar dari jauh bisa merekam detail mimik beruang tanpa mengganggu interaksi alamiah mereka. Suara jernih anak beruang yang disajikan itu menggambarkan betapa hebat teknologi yang digunakan.
Hal lain yang menjadi catatan penting, ini adalah film pertama yang merekam puncak Gunung Everest dari atas. Pemerintah Nepal selama ini melarang pengambilan gambar Everest karena penerbangan di atasnya bisa menimbulkan efek yang tidak diinginkan terhadap kelestarian puncak tertinggi di dunia itu. Pesawat intai tentara Nepal pun dilibatkan dalam pengambilan gambar tersebut.
Secara umum, film dokumenter ini menyajikan keindahan dan keaslian alam yang tak terhingga. Di balik sajian itu, film yang suaranya juga diisi oleh Anggun C. Sasmi ini sebenarnya bertujuan menggugah penontonnya untuk peduli terhadap lingkungan. Disebutkan bahwa pemanasan global mengakibatkan es kutub mencair lebih cepat sehingga beruang kehilangan tempat tinggalnya. “Jika pemanasan global tetap berlangsung seperti sekarang, beruang es akan punah pada 2030,” ujar Patrick. Selain itu, suhu laut yang meningkat menekan populasi plankton yang menjadi sumber makanan utama di laut.
Kepedulian terhadap alam memang harus ditingkatkan mengingat Bumi merupakan salah satu planet yang paling beruntung dengan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya. Ajakan untuk berbagi dan menjaga keseimbangan alam dalam film disambut BlitzMegaplex dalam programnya, yakni setiap Rp 1.000 dari harga karcis yang dibayarkan untuk menonton film ini disumbangkan kepada lembaga nirlaba WWF. “Ini merupakan wujud kepedulian kami terhadap kelestarian alam,” ujar Dian Sunardi, Marketing Manager BlitzMegaplex.
Tito Sianipar
Ada yg mo nonton bareng ?? Wheew …
Save Our Earth …




waduh pak’e … TOP markotop deh
Nunggu DVD nya beredar aja deh. Tapi kapan ya?
yang jelas , mari jaga dan lestarikan alam yang kita tinggali ini
setuju ?
Wah, patut di tonton … thanks infonya.