Hmm …
Ada bacaan ringan tentang hari Kartini,
Sudrun berbaur dengan ibu-ibu PKK yang cantik-cantik, mbois, wangi, dan glamor. Di balai kelurahan, dalam peringatan Hari Kartini, ia ikut sibuk dalam peragaan busana, bazar, pemilihan Ratu Kebaya, Putri Sanggul, dan lomba mirip-mirapan dengan RA Kartini.
Sing rodo kusruh, Sudrun naik panggung mendampingi Bu Lurah dalam dialog interaktif.
“Ibu-ibu, apa makna peringatan Hari Kartini?” tanya Bu Lurah.
“Mengenang jasa RA Kartini,” jawab ibu-ibu kompak.
“Siapa RA Kartini?” tanya Bu Lurah lagi.
Terdengar jawaban simpang siur.
“Putri sejati.”
“Putri Indonesia yang harum namanya.”
“Putri yang mulia.”
“Apa jasa Kartini?” tanya Sudrun.
“Sebagai pendekar bangsa,” jawab seseorang.
Sudrun mengeluarkan jurus-jurus bak pendekar silat.
Ibu-ibu tertawa.
“Pendekar apa?” tanya Sudrun.
“Pendekar kaumnya, untuk merdeka,” jawab yang lain.
Bagi ibu-ibu Kelurahan Adem Ayem itu, peringatan Hari Kartini berarti macak sing ayune puool, berkebaya dan bersanggul, serta berbazar ria. Mereka tak menyimak pidato Bu Camat yang bercerita tentang jasa, karya, dan buah pikiran Kartini yang menginspirasi banyak tokoh pergerakan. Juga perjuangan emansipasi Kartini melalui surat-suratnya yang berisi “curhat”-nya sebagai perempuan pingitan yang dibedakan haknya dengan kaum laki-laki.
“Cak, opo isik relevan peringatan Hari Kartini dengan bersanggul ria itu?” tanya Sarun sekembali Sudrun dari kelurahan. “Saiki emansipasi, lak yo wis maju. Kesempatannya sama. Perempuan bisa jadi presiden, menteri, Kepala Kepolisian Daerah, kapten kapal, sopir truk.”
“Kita mengenang jasa pahlawan. Sekecil apa pun jasanya, kalau sudah jadi pahlawan, ya, harus dikenang. Apalagi kalau jasanya besar seperti Kartini,” kata Sudrun. “Soal kesempatan, memang sudah sama, tapi masih banyak istri dianiaya suami, buruh perempuan disiksa majikan, perempuan ‘dibahasakan’ koyok dene barang. Coba baca berita ini,” Sudrun memperlihatkan koran. “Janda kembang ‘diantre’ dan ‘digesek’.”
“Diantre, kayak minyak tanah,” Sarun berceletuk.
“Digesek, memang kartu kredit?” ujar Sudrun. “Habis nggesek nggak tanda tangan.”
Ngarto Februana
Wheew …


